Illustration by Razvan Vezeteu
Amunisi

Belajar Sabar di Era Jokowi

Jangan mengartikan politis dengan judul ini. Bukan bersabar lantaran iuran BPJS naik, listrik naik, atau apa-apa naik. Bukan itu maksud tulisan ini.

Ini sekelumit cerita, tentang pengalaman-pengalaman menjadi jurnalis, terutama di lingkungan Istana Kepresidenan. Sedikit memberi gambaran. Istana Kepresidenan, ada beberapa tempat. Tidak hanya di Jakarta. Tapi ada juga di Bogor, Yogyakarta, Cipanas Bogor, Bali.

Untuk Jakarta, terdapat dua Istana. Yaitu Istana Merdeka dan Istana Negara. Keduanya adalah bagunan berbeda. Istana Merdeka bisa terlihat dari Jalan Medan Merdeka Utara, atau yang sering digunakan ketika upacara detik-detik HUT RI setiap 17 Agustus. Di belakang gedung itu, ada Istana Negara, yang dipisahkan oleh sebuah lapangan berukuran lebih kurang setengah lapangan bola. Di kompleks itu pula, ada kantor presiden.

Istana Merdeka, didirikan 1873 dan rampung 1879, biasanya digunakan untuk menyambut tamu-tamu negara. Atau bahkan tamu-tamu spesial, seperti saat Presiden Jokowi bertemu Pak SBY dan Pak Prabowo pada Kamis-Jumat, 10-11 Oktober 2019 lalu. Sementara Istana Negara, banyak digunakan untuk acara seremoni seperti pelantikan menteri, pelantikan kepala daerah, maupun pelantikan pejabat negara. Sementara kantor presiden, biasa digunakan untuk rapat kabinet terbatas.

Di kompleks itu, ada juga Gedung Bina Graha. Saat era Presiden Soeharto, gedung itu digunakan sebagai tempat berkantornya Presiden RI ke-2 tersebut. Di era Presiden Jokowi, Bina Graha menjadi kantor Kepala Staf Presiden atau KSP. Di sisi barat, ada kompleks Sekretariat Negara. Juga berkantornya sekretaris kabinet.

Maka ruang lingkup itu, adalah cakupan yang harus di-handle oleh wartawan Istana Kepresidenan. Tapi tak jarang, agenda Presiden Jokowi dilakukan di Istana Bogor. Di sana juga kediamannya sehari-hari.

Agus Rahmat saat berbincang dengan Presiden RI, Joko Widodo. (Dok. Pribadi)

Maka menjadi wartawan Istana Kepresidenan, kadang meliput di Istana Kepresidenan Jakarta, atau juga kadang di Istana Bogor. Tergantung agenda Presiden pada hari tersebut.

Di era Presiden Jokowi, kadang agenda yang diberikan bisa berubah-ubah. Awalnya hanya ‘internal’, artinya tidak ada agenda publik yang bisa diliput. Tapi tiba-tiba, banyak menteri dan tamu yang datang. Tentu ini menjadi sumber berita. Jadilah agenda yang internal itu bisa menjadi padat sepadat padatnya. Berita menumpuk.

Tak jarang, ada agenda tambahan. Nah, biasanya kalau sudah seperti ini, kegelisahan setiap jurnalis Istana menjadi bertambah.

Pernah suatu hari, saat itu agenda Presiden Jokowi sampai sore. Yakni menghadiri acara ulang tahun Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Agendanya sore, sekitar pukul 16.00 WIB di Taman Ismail Marzuki. Acara itu berisi pagelaran budaya wayang orang. Acaranya seru, karena diisi oleh budayawan hingga komedian seperti Cak Lontong.

Hari itu agenda Presiden sebenarnya sangat padat, sejak pagi. Dan usai dari ultah Megawati, rencananya akan menghadiri peresmian Istora Senayan, yang menjadi venue bulutangkis untuk Asian Games 2018 lalu. Saking padatnya, kami tidak sempat santap siang.

Jam sudah pukul 17.00 WIB. Seharusnya, iring-iringan Presiden sudah berangkat ke Istora. Namun hingga lewat jam 5 sore itu, tidak ada tanda-tanda. Beberapa wartawan yang kelaparan, juga tidak berani untuk makan ke kantin yang lokasinya berada di ujung. Takut ketinggalan kendaraan. Sore di Jakarta untuk berkendara, tidak terlalu bersahabat lantaran macet.

Lebih kurang 17.30 WIB, akhirnya iring-iringan bergerak ke Istora. Kami ada di bagian iring-iringan itu. Menembus kemacetan Ibu Kota yang sangat tidak bersahabat. Tepat magrib, tiba di Istora Senayan. Usai salat magrib, Presiden melakukan peresmian dan beberapa rangkaian acara di lokasi tersebut.

Sebenarnya, agenda itu adalah yang terakhir. Puluhan wartawan di kendaraan yang khusus untuk jurnalis, asyik mengatur waktu usai agenda terakhir ini. Ada yang ingin cepat-cepat pulang ke rumahnya yang ada di luar Jakarta, ada yang ingin nonton di bioskop dekat Istora Senayan itu, ada juga yang ingin bermain-main dengan teman-temannya dan kekasihnya. Maklum, itu hari kerja terakhir di pekan itu. Besoknya sudah libur. Dan juga, aktivitas sudah kami lakukan sejak pagi.

Namun semua rencana itu sia-sia. Tiba-tiba, Presiden ada agenda tambahan, usai acara di Istora Senayan itu. Yakni menerima sejumlah bupati dari Provinsi Papua dan Papua Barat, yang warganya mengalami gizi buruk. Agendanya jam 20.00 WIB, dan di Istana Bogor. “Sabar, mau gimana lagi, kadang agenda berubah-ubah,” celetuk seorang rekan yang sudah pasrah membatalkan agenda nonton film di bioskop.

Sabar, mau gimana lagi, kadang agenda berubah-ubah,

Beberapa pekan lalu, tepatnya hari Jumat. Agenda Presiden Jokowi adalah intern. Sedikit bisa bersantai. Kalaupun ada agenda dadakan, biasanya jam 10 atau seringnya usai salat jumat. Jam baru menunjukkan tepat di angka 9. Tiba-tiba, Presiden Jokowi sudah siap memberi keterangan pers. Masih banyak jurnalis istana yang di rumah, atau paling cepat masih di jalan, di atas motor atau di kereta listrik menuju stasiun Juanda, stasiun terdekat dari Istana.

Pagi itu, Presiden mengumumkan pemerintah setuju merevisi UU Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau yang dikenal UU KPK. Banyak teman-teman yang kelabakan. Namun ada yang menarik. Seorang jurnalis yang terbilang baru di Istana, berjalan santai dari kosnya menggunakan sepeda motor. Karena hanya agenda intern, gumamnya dalam hati. Tidak ada keterburu-buruan, sehingga ia tidak menggeber motornya. Menikmati kemacetan pagi itu saja. Di saat traffic light, ia cek handphone nya, tidak ada yang genting.

Tiba di Istana, lebih dari jam 10 pagi, ia dibuat kaget. Ternyata sejam lalu, Presiden menyampaikan keterangan pers. Dan dia tidak tahu itu. Tidak ada kabar apapun, hingga sejam keterangan pers itu berlangsung, dia belum mengirim berita ke kantornya.

Tadi masih di jalan, begitu alasannya ke koordinator liputan yang memarahinya. Ia juga tidak tahu, kalau kita terlambat masih bisa menyaksikan live streaming akun youtube milik Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden.

Si jurnalis ini hanya termenung, tak bisa berkata-kata karena dimarahi pimpinannya. Dari yang awalnya santai karena agenda Presiden hanya intern, kini dia langsung panik, down dan kegairahan memulai aktivitas di jumat pagi itu, runtuh di titik nadir terendah. “Lain kali kamu beli kasur buat nginap di istana biar gak ketinggalan,” kalimat itu keluar dari atasannya.

Agenda-agenda penting Presiden Jokowi, seperti pertemuan dengan Pak SBY atau dengan Pak Prabowo, sejatinya tidak pernah ada pemberitahuan di awal. Bagi jurnalis Istana Kepresidenan, yang penting standby, hingga Presiden meninggalkan istana dan kembali ke Bogor. Itu adalah jam aman buat jurnalis istana.

Bagi jurnalis Istana Kepresidenan, yang penting standby, hingga Presiden meninggalkan istana dan kembali ke Bogor. Itu adalah jam aman buat jurnalis istana.

Ini hanya sekelumit dari ribuan kisah. Tapi bukan berarti menjadi jurnalis Istana Kepresidenan selalu seperti ini, tentu tidak. Kondisi mengikuti ritme dan cara kerja rezim yang berkuasa. Tentu berbeda cara kerja jurnalis di era Pak Soeharto, di era Pak Habibie, Gus Dur, Bu Mega, maupun saat Pak SBY.

Agus Rahmat adalah Jurnalis Istana Presiden Republik Indonesia.
Social Media: Instagram

Jangan Tanya Sedih atau Nggak Pada Penyintas Bencana Alam

Previous article

Press Release, Cara Cepat Membranding Instansi dengan Gratis dan Efek yang Fantastis

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *