Scroll to top
Get In Touch
jajumedia@gmail.com

Jangan Tanya Perasaan Penyintas Bencana Alam

Benarkah seorang jurnalis bencana harus tetap meliput walaupun dirinya dan objek yang ia liput sedang dalam bahaya? Bagaimana jurnalis tersebut membedakan sisi profesionalitas dan kemanusiannya?

Setelah bergelut dengan berbagai macam kegiatan kejurnalistikan masing-masing, sore itu kami duduk bersama di suatu meja warung mie pedas. Kami pun mulai berbincang tentang pengalaman peliputan bencana …

Mirza (M): Kapan mulai berkecimpung di dunia jurnalisme bencana?

Isna (I): Dulu pertama kali saat masih di MediaMahasiswa.com. Sekitar tahun 2014-an. Saya belajar Jurnalisme Bencana saat masih aktif. Kami punya agenda kolektif, liputan bersama. Di tahun itu, ada bencana alam Gunung Kelud meletus. Berangkatlah kami kesana, ke lokasi pengungsian di dekat alun-alun pusat kota. Itu momen pertama kali meliput bencana.

M: Terakhir kali liputan di mana?

I: Terakhir liputan saat ada gempa Lombok.

M: Bagaimana awalnya hingga bisa meliput bencana di Lombok?

I: Saya termasuk dalam tim media Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Mulanya saya diminta mengelola berita dari jarak jauh oleh tim MDMC yang bertugas di lokasi bencana. Jadi laporan-laporan ter-update dari Lombok saya kelola dari Malang. Di lokasi saat itu hanya ada dua orang, satu fotografer, satunya videografer. Tidak ada reporter untuk berita tulis, padahal banyak sekali yang mesti diangkat. Saat itu, saya merasa kalau mengelola berita dari jarak jauh tidak efektif. Kadang kita butuh bahan yang di ada di dalam laporan yang diberikan, mesti bertanya kembali, menunggu dan itu menghabiskan banyak waktu. Sedangkan kita punya tuntutan untuk menulis aktual dan akurat. Akhirnya, saya minta untuk diberangkatkan ke lokasi agar proses pengumpulan informasi dan penyusunan berita lebih baik.

M: Berapa lama disana?

I: Dua minggu aku bertugas disana.

M: Bagaimana kesan pertama tiba di Lombok?

I: Saya ingat, saat itu pertama kali datang, saya dan tim menyusuri Lombok Utara. Saya bisa katakan, hampir 99% keadaan di sana hancur seperti kota mati. Selanjutnya yang hancur berat adalah Lombok Timur.

M: Bagaimana keseharian meliput di sana?

I: Saya stay di Mataram selama bertugas. Kerjaan saya setiap hari ialah keliling mengunjungi satu persatu dari lima Kabupaten yang ada. Tidak terlalu terlalu jauh kok, jarak antar kabupatennya. Dalam sehari aku bisa menerbitkan lebih dari dua tulisan. Jumlah yang jauh daripada mengelola laporan saat di Malang.

M: Hal apa yang benar-benar menjadi pengetahuan baru?

I: Sepertinya sering sekali kita mendapatkan broadcast pesan yang mengabarkan suasana darurat melalui WhatsApps (WA). Semisal, DARURAT: DI DAERAH LOMBOK TIMUR PARA PENGUNGSI MEMBUTUHKAN BERAS, OBAT-OBATAN DAN POPOK BAYI. DISINI MASIH BELUM TERSENTUH BENTUAN SAMA SEKALI, dan masih banyak lagi macamnya. Bagi orang yang tidak sedang berada di lokasi bencana pasti akan ikut panik. Padahal, tidak semuanya benar. Seringnya daerah yang dikabarkan itu sudah tertangani dengan baik. Ada dokter, ada makanan dan lengkap bantuan masuk. Kabar ini khawatirnya diproduksi untuk mengarahkan bantuan pada lembaga tertentu.

M: Ada beberapa jurnalis yang mencoba menanyakan hal-hal yang sudah jelas, seperti bertanya perasaan atau firasat yang semakin membuat keadaan menjadi lebih kelam. Bagaimana pandangan Isna?

I: Kita bs lebih humanis dengan tidak menanyakan perasaan pasca terjadi bencana. Mungkin lebih baik menanyakan apa yang akan dikerjakan setelah ini atau rencana untuk masa depan seperti apa. Dengan bertanya tentang perasaan, tentu saja bukanlah sikap yang baik. Mungkin mencoba untuk memancing. Atau secara visual akan lebih menarik bila menangis agar berita yang disusun menjadi menarik. Padahal ini cara yang sangat kejam. Sudah jelas orang kehilangan itu sedih, kenapa harus ditanyakan? Hello?! Kita harus bisa mengondisikan pertanyaan-pertanyaan kita. Ada banyak pertanyaan yang tidak melulu berkutat di situ.

M: Momen apa yang membuat Isna terkesan sekali?

I: Bencana alam saat itu begitu dekat dengan Idul Adha. Karena berangkat dari Muhammadiyah Jawa Timur saya juga diminta untuk meng-handle bagi qurban bagi masyarakat terdampak. Saya harus beli kambing dan sapi untuk di-qurban-kan. Ini benar-benar menjalankan dua peran. Peran profesional dan peran kemanusiaan. Akhirnya saya mengurusi qurban dan peliputan. Juga, selama disana, air layaknya emas. Hanya diperuntukkan masak. Untuk mandi, di sungai jika ada. Jika tidak, ya sudah, tidak mandi. Saya mengalami sendiri mandi di sungai. Ibu-ibu di lokasi tertawa melihat saya kagok.

M: Bagaimana memisahkan profesional dan sisi kemanusiaan?

 I: Dua minggu di sana, saya juga sempat merasakan gempa susulan yang besar sekali. Secara profesional saya harus meliput, tapi secara kemanusiaan saya harus membantu dan menyelamatkan diri. Ketika gempa datang, saya menyampingkan kamera saya dulu, saya tenangkan mereka. Setelah itu saya lanjutkan meliput. Atau, ketika ada momen yang mesti saya dokumentasikan, maka saya laksanakan terlebih dahulu sebaik mungkin, selanjutnya saya akan bantu sebaik mungkin pula.

M: Untuk menjadi seorang jurnalis yang ditugaskan dalam situasi bencana, apa saran Isna?

I: Harus siap mental dan fisik. Kita tidak hanya meliput, kita akan banyak membantu pula. Ke lokasi, kita menjadi orang yang ‘menolong’ bukan ‘ditolong’. Di lokasi pula, kita menjadi corong informasi bagi dunia luar. Mengabarkan setiap kejadian yang ada. Jadi, harus benar-benar siap.

Author avatar
Isnatul Chasanah
https://isnamenulis.wordpress.com/
Tim Media MDMC

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We use cookies to give you the best experience.